Generasi Z, generasi yang tumbuh dalam era digital dan media sosial, terus
menunjukkan dinamika tren yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Salah
satu tren menarik yang kini tengah diminati adalah JOMO (Joy of Missing Out)
dan FOMO (Fear of Missing Out). Apa itu JOMO dan FOMO? Dan mengapa keduanya
begitu relevan bagi Gen Z?
Apa Itu FOMO?
FOMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out, yaitu
perasaan cemas atau khawatir karena takut melewatkan hal-hal penting yang
dilakukan orang lain, terutama yang terlihat di media sosial. FOMO sering kali
mendorong seseorang untuk terus terhubung secara digital agar tetap up-to-date
dengan apa yang sedang terjadi dalam lingkaran sosial mereka.
Contoh nyata FOMO bisa kita lihat ketika seseorang merasa terpaksa harus
hadir di suatu acara hanya karena semua teman-temannya hadir, meskipun
sebenarnya ia tidak ingin atau tidak menikmati acara tersebut. FOMO dapat
berdampak negatif pada kesehatan mental, seperti meningkatkan kecemasan dan
stres.
Apa Itu JOMO?
Sebaliknya, JOMO adalah singkatan dari Joy of Missing Out,
yaitu kebahagiaan yang dirasakan ketika seseorang memilih untuk melewatkan
sesuatu tanpa rasa khawatir atau cemas. JOMO adalah tentang menikmati momen
saat ini dan memilih kegiatan yang benar-benar memberikan kebahagiaan dan
kepuasan.
Misalnya, seseorang yang memilih untuk tinggal di rumah dan membaca buku
favoritnya ketimbang menghadiri pesta yang ramai. JOMO mendorong individu untuk
lebih memperhatikan kesejahteraan diri dan memilih aktivitas yang memberikan
kebahagiaan sejati, bukan sekadar mengikuti tren atau tekanan sosial.
Mengapa Gen Z Tertarik pada JOMO?
Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, terkenal dengan
kepekaan mereka terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan pribadi. Ada
beberapa alasan mengapa JOMO semakin diminati oleh Gen Z:
1. Kesadaran
akan Kesehatan Mental: Gen Z lebih sadar akan pentingnya menjaga
kesehatan mental dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka memahami bahwa selalu
terhubung secara digital dan merasa harus selalu "ada di sana" bisa
berdampak negatif.
2. Kelelahan
Digital: Terus-menerus terhubung dengan media sosial dan teknologi
dapat menyebabkan kelelahan digital. JOMO memberikan alternatif yang sehat
dengan mendorong detoksifikasi digital dan fokus pada kegiatan offline yang
menyenangkan.
3. Nilai
Otentisitas: Gen Z menghargai otentisitas dan ingin melakukan hal-hal
yang benar-benar mereka nikmati, bukan sekadar mengikuti tren atau tekanan
sosial. JOMO memungkinkan mereka untuk jujur pada diri sendiri dan memilih
aktivitas yang sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka.
Cara Mengadopsi JOMO
Untuk mengadopsi JOMO, berikut beberapa tips yang bisa diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari:
1. Kurangi
Waktu Layar: Batasi waktu yang dihabiskan di depan layar, terutama
media sosial. Tetapkan batasan waktu harian untuk penggunaan perangkat digital.
2. Fokus
pada Kegiatan yang Memberikan Kebahagiaan: Temukan hobi atau aktivitas
yang benar-benar memberikan kebahagiaan, seperti membaca, berkebun, atau
berjalan-jalan di alam.
3. Belajar
Mengatakan Tidak: Jangan merasa terpaksa untuk selalu hadir di setiap
acara sosial. Belajarlah untuk mengatakan tidak dan prioritaskan waktu untuk
diri sendiri.
4. Praktikkan
Mindfulness: Latih mindfulness dan meditasi untuk meningkatkan
kesadaran diri dan fokus pada momen saat ini.
